Buku
Saku Palang Merah Remaja ( PMR )
A.
Pengertian
Palang Merah Remaja ( PMR )
Palang
merah Remaja ( PMR ) adalah sebuah organisasi yang menjadi satu bagian dari
perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang terdiri atas anggota remaja berusia 10 - 17 tahun dan atau belum menikah dan bersedia
mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diharuskan. Bersedia melaksanakan tugas
kepalangmerahan selaku anggota PMR secara sukarela.
B. Sejarah Palang Merah Remaja ( PMR )
Terbentuknya Palang Merah Remaja dilatar belakangi oleh terjadinya Perang
Dunia I (1914 – 1918) pada waktu itu Australia sedang mengalami peperangan.
Karena Palang Merah Australia kekurangan tenaga untuk memberikan bantuan,
akhirnya mengerahkan anak-anak sekolah supaya turut membantu sesuai dengan
kemampuannya. Mereka diberikan tugas – tugas ringan seperti mengumpulkan pakaian-pakaian
bekas dan majalah-majalah serta Koran bekas. Anak-anak tersebut terhimpun dalam
suatu badan yang disebut Palang Merah Pemuda (PMP) kemudian menjadi Palang
Merah Remaja (PMR).
Pada tahun 1919 didalam sidang Liga Perhimpunan Palang Merah Internasional
diputuskan bahwa gerakan Palang Merah Remaja menjadi satu bagian dari
perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Di Indonesia pada Kongres PMI ke-IV tepatnya bulan Januari 1950 di Jakarta,
PMI membentuk Palang Merah Remaja yang dipimpin oleh Ny. Siti Dasimah dan
Paramita Abdurrahman. Pada tanggal 1 Maret 1950 berdirilah Palang Merah Remaja
secara resmi di Indonesia.
Jumbara
Jumbara atau Jumpa
Bhakti Gembira adalah kegiatan besar organisasi PMR seperti halnya jambore pada
organisasi Pramuka.Jumbara diadakan dalam setiap tingkatan. Ada jumbara tingkat
kabupaten, daerah dan Jumbara Nasional. dimana pelaksanaanya disesuaikan dengan
kemampuan PMI daerah yang bersangkutan.
C. Syarat Menjadi Anggota Palang Merah Remaja ( PMR )
1.
Warga Negara Republik Indonesia atau Warga Negara
Asing yang sedang berdomisili di wilayah Indonesia.
2.
Berusia 10 – 17 tahun dan atau belum menikah ( SD s/d
SMU sederajat ).
3.
Dapat membaca dan menulis.
4.
Atas kemauan sendiri, tanpa paksaan
maupun tekanan dari orang lain, ingin menjadi anggota PMR.
5.
Mendapat persetujuan orangtua atau wali.
6.
Bersedia mengikuti orientasi, pelatihan dan
pelaksanaan kepalangmerahan.
7.
Mengisi formulir pendaftaran dan mengembalikannya
kepada pembina PMR.
Keanggotaan
PMR :
1.
PMR
Mula : 10 - 12 tahun/ setingkat
SD/MI/sederajat
2.
PMR Madya : 12 - 15
tahun/setingkat SMP/MTS/sederajat
3.
PMR
Wira : 15 - 17 tahun/setingkat
SMA/SMK/MA/sederajat
D.
HAK DAN KEWAJIBAN
1.
Hak dan Kewajiban Anggota PMR
a. Hak
Anggota PMR
1. Mendapatkan
pembinaan dan pengembangan oleh PMI
2. Menyampaikan
pendapat dalam forum/ pertemuan resmi PMI
3. Berpartisipasi
aktif dalam kegiatan PMR
4. Mendapatkan
Kartu Tanda Anggota (KTA)
Hak
keanggotaan berakhir apabila :
·
Berakhir masa keanggotaan
·
Mohon berhenti
·
Meninggal dunia
·
Merugikan nama dan kedudukan PMR
khususnya, dan PMI umumnya.
2.
Kewajiban Anggota PMR
1. Menjalankan
dan membantu menyebarluaskan prinsip-prinsip dasar gerakan Palang Merah dan
kegiatan PMI
2. Mematuhi
AD/ART
3. Melaksanakan
Tri Bhakti PMR
4. Menjaga
nama baik PMI
5. Membayar
uang iuran keanggotaan
E.
Tujuh
Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional
Dalam PMR dikenalkan 7
Prinsip Dasar yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh setiap anggotanya.
Prinsip-prinsip ini dikenal dengan nama"7 Prinsip Dasar Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah Internasional" (Seven Fundamental Principle of Red
cross and Red Crescent).
1. Kemanusiaan
2. Kesamaan
3. Kenetralan
4. Kemandirian
5. Kesukarelaan
6. Kesatuan
7. Kesemestaan
PATUT
Isi dari PATUT:
Isi dari PATUT:
P : Penolong
mengamankan diri sendiri sebelum bertindak
A : Amankan Korban
T : Tandai tempat
kejadian
U : Usahakan panggil
bantuan
T : Tangani korban
(dengan P3K) mulai dari luka yang paling serius atau membahayakan keselamatan
korban
Tribakti PMR
Dalam PMR ada tugas yang arus dilaksanakan, dalam PMR dikenal tri bakti
yang harus diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh semua anggota. TRIBAKTI
PMR (2009) tersebut adalah:
1.
Meningkatkan keterampilan hidup sehat
2.
Berkarya dan berbakti di masyarakat
3.
Mempererat persahabatan nasional dan
internasional.
Jenis kegiatan
dalam Tribakti PMR Wira :
Berbakti pada
masyarakat
1.
Dapat menyanyikan lagu Mars PMR
2.
Dapat membuat bagan struktur organisasi
PMR
3.
Tahu kegiatan dan tanda pengenal PMR
4.
Tahu tempat puskesmas, rumah sakit,
bidan, dan dokter dilingkungannya
5.
Tahu cara menghubungi tenaga kesehatan
dilingkungannya
6.
Menjenguk teman yang sakit
7.
Membantu orang tua menyelesaikan
pekerjaan rumah
8.
Tahu Cara menjaga kebersihan lingkungan
9.
Ikut gotong royong membersihkan tempat
ibadah, sekolah, rumah sakit, puskesmas dan lingkungan tempat tinggalnya
10. Memberi
sumbangan tenaga/materi kepada korban bencana
11. Melaksanakan
lomba lingkungan sekolah sehat
12. Melaksanakan
kunjungan sosial
13. Menjadi
donor darah siswa
14. Membantu
kegiatan posyandu diwilayahnya
15. Melaksanakan
kegiatan bakti masyarakat, misal sosialisasi pencegahan penyakit atau
bencana dilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat
Mempertinggi
keterampilan, memelihara kebersihan dan
kesehatan
1.
Menjadi Pelatih Remaja Sebaya
2.
Dapat menjaga kebersihan, kesehatan diri
dan keluarga, serta kerindangan lingkungan
3.
Mengenal obat-obatan ringan dan
manfaatnya
4.
Dapat melakukan pertolongan pertama
kepada keluarga dan teman sebayanya
5.
Dapat melakukan perawatan keluarga di
rumah
6.
Mengikuti kegiatan kesehatan
remaja
7.
Mempunyai kesiapsiagaan bencana untuk
diri sendiri, keluarga dan masyarakat
8.
Melaksanakan kegiatan pelayanan
kesehatan di sekolah
Mempererat persahabatan
nasional dan internasional
Menjalin
persahabatan dengan anggota PMR atau organisasi remaja lain :
1.
Saling berkunjung untuk latihan bersama
2.
Saling berkirim surat atau album
persahabatan
3.
Berkirim hasil kerajinan daerah,
informasi pariwisata
F.
Faktor-Faktor yang dilatih dalam pendidikan ke-PMR-an:
1. Fisik
2. Mental
3. Kreatifitas/Otak
G.
Mars Palang Merah Remaja Indonesia
Palang Merah Remaja
Indonesia warga Palang Merah sedunia
Berjuang berbakti penuh
kasih sayang untuk rakyat semua
Bekerja dengan rela
tulus ikhlas untuk yang tertimpa sengsara
Puji dan puja tidak
dikejar… mengabdi tuk sesama…
Putra Putri Palang
Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia
luhur budinya
Putra Putri Palang
Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia
mulya citanya
H.
Organisasi PMR di Sekolah
Pembinaan PMR
dilaksanakan oleh TP PMI
1.
Di Lingkungan PMI Pusat/Daerah/Cabang,
Pembinaan PMR dilaksanakan oleh Bidang SDM/PMR/Diklat
2.
PMR di sekolah disebut Kelompok PMR yang
beranggotakan minimal 10 orang
3.
Kegiatan PMR disekolah merupakan bagian
dari kegiatan ekstra kulikuler dibawah pembinaan wakil kepala Sekolah
Bidang Kesiswaan
4.
Struktur Organisasi PMR Di Sekolah
5.
Kelompok PMR disekolah secara struktural
mempunyai struktur sendiri sebagai kelompok PMR, dan dalam kegiatannya
secara fungsional termasuk seksi Kesegaran Jasmani dan Daya Kreasi OSIS
6.
Susunan Pengurus PMR di sekolah :
a.
Pelindung adalah TP PMI Kota/ Kabupaten
b.
Penanggung jawab adalah Kepala Sekolah
c.
Pembina PMR
d.
Pelatih PMI
7.
Pengurus harian PMR terdiri dari
siswa-siswi yang telah menjadi anggota PMR dengan masa bakti minimal 1
tahun, terdiri dari
a.
Seorang Ketua
b.
Seorang wakil ketua
c.
Seorang sekretaris
d.
Seorang bendahara
e.
Unit-unit :
1)
Bakti Masyarakat
2)
Keterampilan, kebersihan, dan kesehatan
3)
Persahabatan
4)
Umum
I.
Sosialisasi
dan Publikasi kegiatan PMR
Tujuan kegiatan
Sosialisasi dan Publikasi
1. Memperkenalkan
kegiatan PMR sebagai wadah pembinaan kepalangmerahan bagi generasi
muda
2. Menyosialisasikan
peranan PMR dalam mendukung kegiatan kepalangmerahan
3. Menarik
minat generasi muda untuk bergabung dalam kegiatan PMR
4. Memotifasi
anggota PMR untuk tetap bergabung dalam kegiatan kepalangmerahan
Waktu Pelaksanaan
kegiatan Sosialisasi dan Publikasi
Kegiatan
Sosialisasi dan Publikasi dilaksanakan minimal 1 tahun sekali
sebelum dilaksanakan perekrutan.
Media dan Metode
Sosialisasi dan Publikasi
Media :
1. Majalah
Dinding
2. Foto/Dokumentasi
kegiatan PMR
3. Leaflet
4. Poster
5. Buletin
6. Merchandise
Metode :
1. Presentasi,
audisi
2. Demonstrasi/Peragaan
kegiatan PMR
3. Pemasangan
Promosi Majalah dinding
4. Pameran
foto kegiatan PMR
5. Pembagian
Merchandise
6. Penyebaran
Leaflet
7. Pemasangan
poster
Sasaran
1. Siswa
2. Orang
Tua Murid
3. Sekolah/luar
sekolah (panti asuhan, Kejar paket) dan management
4. Masyarakat
5. Instansi
terkait
Strategi
:
1. Media
persentasi dan dialog melalui forum pertemuan siswa baru / orang tua siswa
2. Memanfaatkan
masa penerimaan siswa baru sebagai tempat memperkenalkan dan mempromosikan
kegiatan PMR dan kepalangmerahan
J.
Atribut
PMR
1. Terdiri
dari 2 macam seragam :
a. Seragam
Harian
Pakaian seragam
sekolah, yang diberi kelengkapan atribut. Digunakan oleh anggota PMR Kelompok
Sekolah
b. Seragam
Lapangan
Pakaian seragam
lapangan berupa kaos berlambang PMI dan bertuliskan "Palang Merah
Remaja" di bagian punggung. Pakaian yang digunakan oleh anggota PMR
kelompok Sekolah dan Luar Sekolah
2. LENCANA
a. Bertujuan
memberikan penghargaan dan pengakuan atas peran serta anggota PMR dalam
kegiatan Tri Bakti PMR
b. X diberikan
kepada seorang anggota PMR yang telah melaksanakan Tri Bakti PMR minimal 1
tahun
c. Dipakai
pada dada sebelah kiri/diatas saku kiri baju pakaian seragam PMR
d. Anggota
PMR yang berhak menerima lencana diusulkan oleh kelompok PMR dan
ditetapkan oleh PMI Cabang.
3. BADGE
a. Dibuat
dari kain dengan disablon atau dibordir. Warna dasar sesuai pada warna
jenjang PMR: Mula berwarna hijau, Madya berwarna biru, Wira berwarna
kuning
b. Dipakai
sebagai tanda pengenal PMR dilengan kiri pada pakaian seragam PMR. Dapat
juga dikenakan pada jas untuk acara-acara tertentu
4. TANDA
LOKASI
Dipakai sebagai tanda
pengenal wilayah kota/kabupaten dan kelompok PMR yang bersangkutan,
dijahit pada lengan kanan atas pakaian seragam PMR
5. TANDA
JENJANG
a. Disebut
kalung leher (slayer), dibuat dari kain dengan warna dasar sesuai pada warna
jejang PMR : Mula berwarna hijau, Madya berwarna biru, Wira berwarna
kuning
b. Dipakai
sebagai tanda pengenal jenjang Mula, Madya, Wira. Dikalungkan dileher dan
diikat dengan ring
6. TOPI
a. Dibuat
dari kain katun berwarna biru untuk seluruh jenjang anggota PMR
b. Dipakai
sebagai tanda pengenal PMR dan juga sebagai tutup kepala pada saat berada
diluar ruangan misal : upacara, latihan, dan kegiatan lainnya
7. TANDA
KECAKAPAN
a. Tujuan
memberikan penghargaan dan pengakuan atas kemampuan dan pengabdian anggota
PMR dalam melaksanakan kegiatan kepalangmerahan.
b. Bentuk
:
1) h diberikan
kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus pelatihan Pertolongan
Pertama, Perawatan Keluarga, dan Pengetahuan Dasar Bencana
2) i diberikan
kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus pelatihan Kepemimpinan
dan Kepalangmerahan
3) j diberikan
kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus pelatihan Kesehatan
Remaja
4) k diberikan
kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus materi Usaha Kesehatan
Transfusi Darah : Donor darah siswa
5) Dipakai
pada dada sebelah kiri/ diatas saku kiri baju pakaian seragam PMR
6) Anggota
PMR yang berhak menerima lencana diusulkan oleh kelompok PMR, dan
ditetapkan oleh PMI Cabang
8. SERTIFIKAT
PENGHARGAAN
Kelompok PMR Sekolah
dan Luar Sekolah yang telah melakukan pembinaan dan pengembangan kegiatan Tri
Bakti PMR minimal 1 Tahun, diberi sertifikat penghargaan oleh PMI.
K. MATERI PMR
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Rumah Tangga. Kecelakaan di rumah
tangga dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok besar:
1. Murni kecelakaan (
trauma fisik, panas, kimia, dll)
2. Kedaruratan medik (
umumnya karena penyakit yang diderita seperti kejang, tidak sadar, ngamuk, dan
sebagainya ).
Beberapa kejadian yang sering dijumpai di
rumah tangga:
1.
Memar
Memar terjadi karena trauma/benturan benda
keras. Jatuh ke lantai terbentur meja tembok. Tanda yang terlihat adanya
benjolan pada bagian yang terantuk, kadang disertai wama kebiruan ( dapat
muncul esok hari ). Benjol dan kebiruan disebabkan karena pembuluh darah pada
bagian yang terkena benturan pecah dan darah masuk kejaringan sekitarnya. Cara
mengatasinya jika tidak ada luka langsung dikompres dingin pada bagian yang
terbentur. Hal ini untuk mencegah bertambah banyak darah yang merembes ke
jaringan. Pengompresan juga akan mengurangi udema (pembengkakan). Pada hari
berikut dilihat kondisi pembengkakan berkurang atau tidak. Pada periode ini
penatalaksanaan ditujukan untuk mengurangi/menghilangkan pembengkakan. Cara
yang digunakan dengan memberikan kompres panas selama 3-5 menit, untuk
melebarkan pembutuh darah setempat, setelah itu dikompres dingin selama 1-2
menit. Hal ini dilakukan 4 - 5 kali sehari sampai bengkak menghilang. Hal yang
perlu diperhatikan saat melakukan kompres panas yakni suhu panas jangan sampai
menimbulkan luka bakar. Kompres panas dapat menggunakan air panas dalam kantong
atau dengan obat pemanas kulit ( salep/ krim / balsam ). Penggunaan obat yang
ditempatkan pada kulit perlu diperhatikan efeknya.
Memar dapat terjadi di semua bagian tubuh.
Untuk memar yang terjadi di sekitar mata, misalnya terkena tinju. Cara
penatalaksanaan sama yakni dalam 24 jam pertama diberikan kompres dingin,
selanjutnya kompres panas dingin berganti-ganti. Hal yang perlu diperhatikan
adalah penyebab dan kondisi memar mata yang dapat menimbulkan penyulit, misal
tulang dasar kepata retak atau tulang sekitar bola mata retak/patah. Untuk
memastikan biasanya diawali dengan melihat ukuran trauma, ada tidaknya gangguan
penglihatan. Jika diduga terjadi keadaan semacam ini maka harus segera dirujuk
ke rumah sakit.
2.
Laserasi Atau Luka Parut
Luka parut disebabkan karena benda keras
yang merusak permukaan kulit, misalnya karena jatuh saat berlari. Permukaan
kulit yang rusak mengakibatkan terjadi perdarahan. Banyaknya perdarahan tergantung
dari lokasi luka, dalam dan luas luka. Luka parut di kepala (misal terantuk)
umumnya minimbulkan perdarahan lebih banyak dibanding di tempat lain. Cara
mengatasi luka parut, bila ada perdarahan dihentikan terlebih dahulu dengan
cara menekan bagian yang mengeluarkan darah dengan kasa steril atau
saputangan/kain bersih. Kemudian cuci dan bersihkan sekitar luka dengan air dan
sabun. Luka dibersihkan dengan kasa steril atau benda lain yang cukup bersih.
Perhatikan pada luka, bila dijumpai benda asing ( kerikil, kayu, atau benda
lain ) keluarkan. Bila ternyata luka terlalu dalam, rujuk ke rumah sakit.
Setelah bersih dapat diberikan anti-infeksi lokal seperti povidon iodine atau
kasa anti-infeksi.
3.
Terpotong Atau Teriris
Terpotong adalah bentuk lain dari
perlukaan yang disebabkan oleh benda tajam, bentuk lukanya teratur dan dalam,
perdarahan cukup banyak, apalagi kalau ada pembuluh darah arteri yang putus
terpotong. Cara mengatasinya pertama, menangani perdarahan terlebih dahulu
yakni dilakukan dengan menekan bagian yang mengeluarkan darah dengan
menggunakan kasa steril atau kain yang bersih. Bila ada pembuluh nadi yang ikut
terpotong, dan cukup besar, dilakukan pembalutan torniquet. Pembalutan
dilakukan dengan menempatkan tali/ikat pinggang/saputangan pada bagian antara
luka dan jantung secara melingkar, kemudian dengan menggunakan sepotong
kayu/ballpoint tali/ikat pinggang/saputangan tadi diputar sampai lilitannya
benar-benar kencang (lihat gambar 1). Tujuan cara ini untuk menghentikan aliran
darah yang keluar dari luka. Setelah itu, luka ditutup dan rujuk ke rumah
sakit. Pembebatan torniquet dilakukan pada lengan atas atau paha. Pembebatan di
tempat lain tidak akan efektif. Pada luka yang teriris dioles anti infeksi
kemudian ditutup kasa steril.
4.
Luka Bakar
Luka Bakar sering terjadi di rumah tangga
di antaranya terkena api, tersiram air panas, minyak panas, sampai kuah masakan
yang panas. Berat ringan luka bakar sangat tergantung pada luas dan dalam luka
bakar tersebut. Luka bakar dibedakan atas, luka bakar kering umumnya karena
api, sengatan listrik, logam panas; luka bakar karena cairan panas, air
mendidih, uap panas, minyak panas, dll; luka bakar karena zat kimia, asam
pekat, alkali pekat, dll. Tanda-tanda luka bakar sesuai tingkat keparahannya,
yakni luka bakar ringan rasa panas dan nyeri, kemerah-merahan pada bagian yang
terkena panas, kadang-kadang ada pembengkakan. Luka bakar sedang cirinya bagian
yang terkena lebih dalam dari permukaan kulit, rasa panas dan nyeri lebih
hebat, selain kemerahan juga timbul gelembung yang berisi cairan. Luka bakar
berat cirinya jaringan yang terkena lebih dalam sampai jaringan di bawah kulit,
tampak ada jaringan yang mati ( kehitaman ). Hal yang perlu diperhatikan selain
kedalaman luka bakar juga luas permukaan kulit yang terkena trauma panas.
Semakin luas permukaan kulit yang terkena semakin membahayakan jiwa korban.
Penatalaksanaan luka bakar tergantung pada
tingkat keparahannya.
a. Luka bakar ringan
Derajat ringan jika luas kurang dari 50%
atau derajat sedang dengan dengan luas kurang dari 15 % atau derajat berat
kurang dari 2%. Bagian yang terkena panas dikompres dengan air dingin atau
dialiri air dingin. Bila terlalu luas segera rujuk kerumah sakit. Bagian yang
melepuh jangan dipecah, tetapi ditutupi. Tidak dianjurkan mengolesi luka bakar
dengan odol/kamfer, keadaan ini justru akan memperberat kondisi luka bakar dan
akan menambah penderitaan, sebab saat membersihkan akan terasa sakit.
b. Luka Bakar Sedang.
Derajat ringan dengan luas lebih dari 50%,
derajat sedang dengan luasc15-30%, atau derajat berat dengan luas lebih dari 2
% perlu segera dirujuk ke rumah sakit dengan menutupi bagian yang terkena
panas.
c. Luka bakar berat.
Lebih parah dan lebih luas dari kondisi
luka bakar sedang, segera rujuk ke rumah sakit yang lengkap.
Obat-obatan yang diperlukan pada luka
bakar, terutama bila permukaan kulit terbuka, adalah anti infeksi yang
diberikan secara oles/topikal untuk mencegah kemungkinan terinfeksi. Hal lain
yang perlu diperhatikan karena dapat mengancam korban luka bakar adalah
kehilangan cairan tubuh (dehidrasi), karena permukaan kulit yang rusak,
infeksi, cacat tubuh karena adanya jaringan parut akibat luka bakar
(kontraktur). Untuk luka bakar karena zat kimia perlu penatalaksanaan khusus,
secara umum luka bakar dialiri air dingin lebih lama ( 20 - 30 menit ), tutup
dengan kain halus, dan rujuk ke rumah sakit.
5.
Terkilir, Lepas Sendi, dan Patah Tulang
Keadaan ini sering terjadi pada anak-anak
maupun orang dewasa. Cara mengatasi terkilir, pertama dilakukan kompres dingin
untuk mengurangi pembengkakan sendi, kemudian dilakukan pembalutan ketat dua
lapis untuk mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan. Istirahatkan sampai
bengkaknya hilang. Lepas sendi (luxasio) sering terjadi pada usia lanjut,
terutama sendi mandibula. Penatalaksanaan lepas sendi harus dilakukan di rumah
sakit oleh ahli ortopedi untuk mengembalikan sendi ke posisi normal. Patah
tulang (fracture) dapat tertutup dapat terbuka. Patah tulang terbuka terjadi
jika salah satu ujung tulang keluar permukaan kulit sehingga menimbulkan luka.
Patah tulang yang banyak terjadi dalam rumah tangga karena jatuh dari atap,
dari pohon, atau terpeleset. Pada wanita usia lanjut banyak terjadi patah
tulang di leher tulang paha ( colum femur ). Penatalaksanaan patah tulang
dilakukan di rumah sakit. Namun demikian, sebelum dirujuk ke rumah sakit dapat
dilakukan pertolongan pertama sebagai berikut: korban dibaringkan, bagian
tulang yang diperkirakan patah diistirahatkan, jangan sampai bergerak. Untuk
itu harus dilakukan pembidaian. Prinsip pembidaian adalah "mematikan"
dua persendian yang membatasi bagian tulang yang patah. Pembidaian dilakukan
agar bagian yang patah tidak bergerak atau bergeser. Pada patah tulang terbuka
selain tindakan seperti di atas, perdarahan dihentikan dan luka ditutupi dengan
kain steril atau kain bersih agar tidak terkontaminasi bakteri. Selanjutnya
dirujuk ke rumah sakit. Pada fraktur terbuka tidak boleh menarik atau membetulkan
bagian yang patah dan/atau memasukan ujung tulang yang mencuat keluar.
6.
Mimisan atau Perdarahan Hidung.
Kejadian ini sering terjadi pada
anak-anak, baik karena dikorek-korek atau karena hal lain (demam). Cara
mengatasi yang paling mudah dengan mendudukkan anak agak menunduk, cuping
hidung kanan kiri dipencet bersamaan, dan bernapas melalui mulut. Tunggu sampai
10 menit. Bila darah masih keluar, segera rujuk ke rumah sakit. Penggunaan cara
tradisional dengan daun sirih, dapat membantu menghentikan perdarahan karena
daun sirih mengandung zat yang menyempitkan pembuluh darah.
7.
Pingsan (syncope)
Pingsan adalah suatu keadaan seseorang
kehilangan kesadarannya. Hal ini sering terjadi karena kondisi fisik ataupun
mental tidak baik. Cara mengatasi keadaan ini, sebelum melakukan tindakan
perhatikan pernapasannya. Bila masih bernapas segera baringkan dengan posisi
kepala lebih rendah dari dada dan kaki, pakaian yang kencang dilonggarkan.
Badan dihangatkan. Pingsan karena kejiwaan agak sulit ditangani sebab biasanya
disertai kejang (misal dalam keadaan histeris). Bila tidak bernapas, raba
nadinya, bila tidak teraba, lakukan resusitasi jantung paru. Bila tidak dapat
segera rujuk ke rumah sakit
8.
Benda asing
Benda asing adalah benda yang tidak biasa
di dalam tubuh, seperti duri menusuk dan tertinggal dalam kulit, biji-bijian
yang dimasukkan ke dalam hidung telinga, telinga kemasukan serangga, dan
saluran napas tersumbat makanan. Kejadian yang sering dijumpai adalah anak-anak
yang memasukkan benda asing ke lubang hidung. Cara mengatasinya, bila benda
asing tidak terlalu besar, diusahakan untuk bersin. Caranya dengan mencium
bubuk merica. Jika dengan cara tersebut tidak berhasil segera dirujuk ke rumah
sakit. Jangan mengkorek atau menyemprot dengan air karena hal ini dapat
memperparah keadaan atau benda asing semakin dalam.
Jika ditemukan benda asing di telinga,
misalnya serangga harus dikeluarkan dengan meneteskan minyak mineral
(gliserin/parafin cair) atau obat tetes telinga, kemudian miringkan dan amati
benda asing tersebut keluar atau tidak. Bila tidak keluar, jangan melakukan
tindakan apapun sebab dapat merusak saluran atau selaput kendang telinga. Benda
asing di mata, prinsip jangan menggosok-gosok kelopak mata. Bila ada darah
segera rujuk ke rumah sakit. Bila debu yang halus, dapat dilakukan dengan
membalik kelopak mata, dengan ujung kapas atau saputangan yang dibasahi ambil
debu yang ada di mata. Dapat juga dilakukan dengan gelas pencuci mata, atau
dengan mengaliri air bersih. Bila benda asing menancap pada selaput lendir bola
mata, segera rujuk kerumah sakit. Benda asing dikulit, misal duri, bila ujung
duri masih teraba cabut dengan alat penjepit yang telah
dibersihkan/disucihamakan. Bila halus, duri bambu/kaktus/ulat bulu, dapat
dengan cara menempelkan plester pada kulit yang tercancap duri halus, kemudian
plester dicabut dengan cepat. Lakukan berulang-ulang sampai duri/bulu halus
tercabut semua. Bila Benda asing masuk ke dalam tenggorokan, sehingga menyumbat
saluran nafas, perlu dilakukan tindakan yang cepat dan segera. Pada bayi dengan
cara mengangkat kedua kaki dan tepuk punggungnya. Pada anak-anak, dengan cara
tengkurupkan pada lutut, atau kursi yang dibalik tepuk punggungnya. Pada anak
yang besar atau dewasa dengan metode Heimlich. Bila tidak berhasil segera rujuk
ke rumah sakit. Duri ikan yang tercancap ditenggorokan dapat diatasi dengan
menelan bakpao, atau nasi/ketan yang dikepal kemudian ditelan. Bila tidak
berhasil rujuk ke rumah sakit.
9.
Keracunan.
Dalam rumah tangga keracunan dapat terjadi
karena makanan/minuman misal keracunan singkong, bongkrek, jengkol, minuman
lapen atau karena zat kimia seperti baygon, pemutih, racun tikus, dan lainnya.
Keracunanan makanan dan minuman ditandai dengan gangguan saluran cerna, mual,
muntah, sampai diare, kepala berputar-putar, pada keadaan yang berat dapat
terjadi gangguan gangguan pernapasan dan dapat meninggal dunia, misalnya
kejadian keracunan bongkrek di daerah Banyumas. Khusus untuk keracunan karena makan
jengkol, ditandai dengan gangguan saluran kemih, berupa nyeri dan air seni
sedikit. Cara mengatasi secara umum, bila baru terjadi dan korban masih sadar,
dengan mengeluarkan bahan makanan dari lambung dengan memacu muntah. Caranya
dengan mengorek tenggorokan dengan jari.
Bila tidak sadar segera rujuk ke rumah
sakit, apalagi telah muncul tanda kebiruan (sianotis) pada daerah-daerah ujung
jari dan bibir. Untuk mengatasi keracunan kimiawi diperlukan penatalaksanaan
khusus dan hanya dilakukan di rumah sakit. Akan sangat menolong bila korban
yang dirujuk ke rumah sakit disertai dengan zat racun yang diminum/dimakan.
Beberapa cara tradisional yang dilakukan dengan minum air kelapa muda dan
sebagainya.
Hal ini dapat dilakukan bila korban sadar.
Jangan sekali-kali memasukkan makanan-minuman melalui mulut pada keadaan pasien
tidak sadar.
10. Gigitan
hewan, Sengatan Serangga dan Racun dari Tumbuh-tumbuhan.
Kejadian gigitan/sengatan dari hewan
maupun tumbuhan dapat terjadi pada rumah tangga. Mulai dari hewan kecil,
seperti tungau, pinjal, lebah, nyamuk, kaki seribu, kelabang, sampai ular,
anjing. Akibat yang nyata terlihat adanya perlukaan pada kulit dan adanya tanda
peradangan ( merah bengkak, sakit/nyeri ). Pada kondisi yang lebih buruk dapat
terjadi kekakuan / kelumpuhan bagian yang terluka. Khusus pada gigitan ular
yang beracun ada dua lubang bekas masuknya taring ular berbisa. Cara mengatasi
gigitan hewan ( anjing, kucing, kera ) korban ditenangkan luka dicuci dengan
air bersih dan sabun, beri antiseptik balut, dan rujuk ke rumah sakit. Bila ada
perdarahan hentikan perdarahan dengan cara seperti luka potong atau luka sayat.
Jika luka karena sengatan serangga, segera lepas serangga dari tempat
gigitannya, dengan menggunakan minyak pelumas, atau terpentin atau minyak cat
kuku. Setelah terlepas (kepala dan tubuh serangga) luka dibersihkan dengan
sabun dan diolesi calamine atau krim antihistamin. Bila tersengat lebah, ambil
sengatnya dengan jarum halus, bersihkan dan oleskan krim antihistamin atau
kompres es bagian yang tersengat. Bila menunjukkan adanya tanda-tanda
membahayakan, seperti kepala berputar-putar, mual-muntah, pucat apalagi sampai
sesak napas, segera rujuk ke rumah sakit. Sementara, penanganan gigitan ular
beracun dengan melakukan torniquet antara bekas gigitan dengan jantung,
istirahatkan bagian yang tergigit, seperti kita menangani patah tulang. Rujuk
ke rumah sakit. Jangan melakukan sayatan silang dan menghisap darah dari luka
sayatan tersebut, sebab selain membahayakan diri bagi yang menghisap darah,
juga akan menimbulkan luka infeksi pada korban.
11. P3K bagi pasien yang berhenti bernafas
Kalau seseorang
tiba-tiba napasnya berhenti, apapun latar belakangnya, harus segera dilakukan
nafas buatan. Cara yang paling praktis dan efisien untuk menyelamatkan nyawa
orang tersebut adalah dengan jalan : meniupkan nafas ke paru-paru korban.
Langkah-langkah pertolongan dengan napas buatan dari mulut ke mulut/hidung
sebagai berikut :
1. Kepala
korban diletakkan dengan posisi dagu mendongak ke atas
2. Rahang ditarik sampai mulut terbuka
3. Penolong membuka mulut lebar-lebar dan
ditempelkan ke mulut korban rapat-rapat dan pencet hidung atau tutup hidung
korban dengan pipi, atau dapat juga dengan jalan tutup mulut korban rapat-rapat
selanjutnya penolong menempelkan mulutnya ke hidung korban dan meniupnya.
4. Tiup ke mulut/hidung korban, kepada :
a.
Orang dewasa secara teratur dan kuat ditiupkan 12 kali tiupan pada setiap
menit.
b.
Anak-anak ditiupkan 20 kali tiap menit
12. P3K bagi
korban Sengatan Listrik
1.
Penolong hendaknya berdiri di atas karet, karton, papan, atau karpet yang dalam
keadaan kering
2.
Gunakan tongkat kering/papan kering untuk menarik atau mendorong kawat
beraliran listrik yang menempel pada tubuh korban
3.
Setelah kontak dengan aliran listrik tiada lagi, selanjutnya segera dilakukan
nafas buatan sampai bantuan medis dating
13. P3K bagi pasien yang menderita pendarahan
parah
1.
Luka hendaknya ditutup kain kasa kompres yang steril, selanjutnya kain kasa
kompres tersebut ditekan kuat-kuat dengan tangan sampai pendarahan berhenti.
2.
Untuk menutup luka biasa juga menggunakan bahan yang bersih lainnya, misalnya
kasa steril, saputangan bersih lainnya, handuk atau sobekan sprei yang semuanya
sudah dicuci dan disetrika.
3.
Kalau tidak tersedia peralatan yang steril, jangan ragu-ragu lagi menggunakan
baju kotor atau tangan telanjang untuk menekan bagian yang luka agar darah
tidak terus menerus mengucur karena kehilangan darah dari tubuh korban lebih berbahaya
daripada resiko infeksi.
4.
Luka yang sudah berdarah tidak boleh dibersihkan karena pendarahan akan
membersihkan luka itu sendiri, yang boleh dibersihkan adalah kulit di sekitar
luka, dengan air sabun atau air ledeng biasa atau air yang sudah dimasak.
5.
Pada semua kasus pendarahan serius, penderita selalu diancam shok, untuk itu
diselimuti dan letakkan penderita pada posisi yang paling menyenangkan dan
semua yang mengikat pada tubuh harus dilepaskan termasuk ikat pinggang.
14. Pertolongan
Pertama Mengurangi Shok
1. Setiap kecelakaan, kebakaran,
keracunan yang parah, sering kali disertai dengan shok baik ringan atau parah,
bahkan sampai fatal, karena shok merupakan reaksi tubuh yang ditandai oleh
melambatnya atau terhentinya peredaran darah dan berakibat penurunan persediaan
darah pada organ-organ penting.
2. Tanda-tanda Shok
a. Denyut nadi cepat tapi
lemah
b. Merasa lemas
c. Muka pucat
d.
Kulit dingin, kerinagt dingin di kening dan telapak tangan, kadang-kadang pasien
menggigil
e. Merasa haus
f. Merasa mual
g. Nafas tidak teratur
h. Tekanan darah sangat rendah
4. Pertolongan Pertama
Mengurangi Shok antara lain dilakukan dengan cara :
a. Menghentikan pendarahan
b. Meniadakan hambatan-hambatan
pada saluran nafas
c. Memberi nafas buatan
d. Menyelimuti dan meletakkan
penderita pada posisi yang paling menyenangkan
5.
Langkah - langkah Pelaksanaan Pertolongan Pertama Mengurangi Shok :
a. Baringan korban dengan posisi kepala sama
datar atau lebih rendah dari tubuh, dengan tujuan untuk menambah aliran darah
ke jantung dan otak.
b. Bila kaki tidak patah,
tungkai dapat ditinggikan 30-45 cm di atas posisi kepala.
c. Selimuti pasien dan
hindarkan dari lantai serta udara dingin usahakan pasien tidak melihat lukanya
d. Pasien/penderita
yang sadar, tidak muntah dan tidak mengalami luka di perut, dapat diberi
larutan shok yang terdiri dari :
1 sendok teh garam dapur
½ sendok teh tepung soda kue
4-5 gelas air
dan bisa juga
ditambah air kelapa/kopi kental/teh
e. Perlakukan
pasien dengan lemah lembut, sebab rasa nyeri akibat penanganan yang kasar bisa
menjerumuskan korban pada shok yang lebih parah, Cepat-cepat panggil
dokter
15. Gigitan
Serangga
Gigitan serangga dapat datang kapan saja.
Dari nyamuk, lebah, tawon, semut, dan ulat bulu. Meski dampaknya tak serius,
kita tetap perlu menghindarinya. Sebab, gigitan serangga bisa membuat kulit
anak bengkak, gatal, dan nyeri disertai kemerahan.
Hal itu karena gigitan serangga mengandung
toksin. Yang perlu diwaspadai, toksin juga bisa mengandung bibit penyakit demam
berdarah atau malaria. Berikut tips pertolongan pertama pada kasus gigitan
serangga.
16. Sengatan
lebah atau tawon
a. Lepaskan sengat lebah yang masih tertinggal pada kulit anak.
b. Beri kompres dingin pada gigitan untuk mengurangi rasa nyeri dan gatal.
c. Beri salep antihistamin yang dijual bebas di apotek.
d. Beri sirup parasetamol sesuai aturan pakai.
17. Terkena
ulat bulu
Balurkan kunyit parut pada kulit untuk
menghilangkan rasa nyeri dan panas. Kandungan kurkumin kunyit berfungsi untuk
meredakan peradangan. Hal itu dibuktikan oleh Julie S.Jurenka, staf penelitian
dari Alternative Medicine Review (2009).
18. Gigitan
nyamuk
Bersihkan dengan air dan sabun pada bagian
kulit yang digigit. Lalu, oles dengan balsem telon khusus bayi dan anak yang
dapat meredakan rasa.
Untuk pencegahan, aplikasikan lotion
anti-nyamuk. Menurut The Center for Disease Control and Prevention, lotion yang
aman mengandung tak lebih dari 10 persen DEET (dalam kemasan tertulis
N-diethyl-meta-toluamide), lemon eucalyptus, atau picaridin.
L. Jenis Obat dan Alat Kesehatan yang Perlu
Tersedia
Jenis persediaan obat dan alat kesehatan
di rumah tangga sangat tergantung pada kejadian yang sering dialami di rumah
tangga, misalnya demam, anak kejang (stuip), dan perlukaan. Obat dan alat
kesehatan yang disediakan harus berkaitan dengan hal tersebut. Secara umum
berdasar angka kejadian obat dan alat kesehatan yang perlu disediakan adalah
obat batuk ( anak dan dewasa ): Obat Batuk Hitam (OBH), Obat Batuk Putih (OBP),
tablet antibatuk; obat sakit perut/diare: oralit, carbon adsorbent (norit®),
tablet maag; obat pengurang rasa nyeri/demam: parasetamol sirup dan tablet,
aspirin tablet (khusus dewasa); obat untuk alergi: ctm, dan salep antihistamin;
obat anti mabuk (khusus bagi yang sering bepergian); obat yang digunakan secara
topikal (dioleskan pada kulit): cairan antiseptik (mercurochrom, povidon
iodine), salep/krim anti histamin, salep/krim pengurang rasa nyeri (kayu putih,
minyak telon, balsern dll.), dan tetes mata. Alat kesehatan yang diperlukan di
rumah tangga antara lain adalah kasa pembalut, pembalut elastis, kasa steril,
plester biasa maupun yang sudah ada anti infeksinya, pembalut segitiga
(mitela), peniti, pinset, termometer, dan gelas pencuci mata.
Jumlah yang Harus Tersedia
Jumlah obat dan alat kesehatan yang harus
tersedia sangat tergantung pada situasi. Besar kecil lemari obat tergantung
dari jauh tidaknya rumah dengan fasilitas kesehatan, kemudahan mencapainya,
serta kejadian di rumah tangga. Kecelakaan yang sering terjadi di rumah tangga
dan kesulitan mencapai fasilitas kesehatan menyebabkan ketersediaan obat dan
alat kesehatan di rumah tangga harus lengkap jenis dan jumlahnya.
Tempat Mendapatkan Obat dan Alat Kesehatan
Pengadaan obat tidak menjadi persoalan
sebab banyak toko obat/apotik yang menyediakan obat dan alat kesehatan.
Usahakan membeli pada toko obat yang telah mendapat izin resmi dari departemen
kesehatan (ada asisten apoteker), perhatikan kemasannya, dan mintalah petunjuk
penggunaan.
Cara Penyimpanan Obat dan Alat Kesehatan
Kotak/lemari obat ditempatkan pada tempat
yang mudah terjangkau, namun tidak mudah dijangkau oleh anak-anak. Jangan
ditempatkan di daerah yang terkena cahaya matahari langsung, hindari penempatan
pada tempat yang lembab dan basah. Bahan kotak/lemari obat dapat
bermacam-macam, dapat terpisah sendiri (yang ideal), dapat bersama dengan
barang lain, namun harus jelas pemisahannya. Setiap obat yang disimpan harus
diberi etiket/label yang jelas, nama obat, cara penggunaan, dan tanggal dibeli.
Bedakan label penggunaan obat luar dan obat dalam (yang diminum). Penyimpanan
yang baik dapat mencegah salah penggunaan dan mencegah kerusakan obat. Agar
penyimpanan tetap baik perlu dikontrol dan dibersihkan secara periodik.
Obat Rusak
Penyimpanan yang baik dapat mencegah
kerusakan. Obat cepat menjadi rusak bila terpapar sinar matahari, kelembaban
udara, dan udara yang sangat kering. Ciri obat rusak antara lain adanya
perubahan warna, bentuk ( pecah, tumbuh kristal, lembab); bila berupa sirup/campuran
saat dikocok tidak tercampur, sudah lewat batas kadaluwarsa. Dalam kondisi
tersebut obat harus dibuang dan jangan digunakan. Perlu diperhatikan pembuangan
obat sebaiknya memperhatikan lingkungan, sebaiknya dihancurkan terlebih dahulu.
Cara Penggunaan
Obat dapat merugikan jika digunakan secara
tidak tepat. Untuk menggunakan obat secara aman ketahui aturan pakainya, dosis
yang harus diminum dan frekuensi minum dalam sehari (24 jam), lama minum obat.
Untuk pengobatan sendiri atau self-medication dibatasi tidak lebih dari
2 X 24 jam jika gejala tidak berkurang segera ke dokter. Jenis obat yang harus
diminum sesudah makan jika obat tersebut merangsang lambung sehingga timbul
rasa pedih. Hal ini terutama karena obat yang diminum bersifat asam. Dalam
kondisi semacam ini memang dianjurkan meminum obat 1-2 jam sesudah makan. Obat
seperti vitamin dan obat yang mengandung enzim pencernaan, sebaiknya diminum
bersama makan. Obat -obat resep dokter bila tidak ada informasinya tanyakan
pada dokter yang memberi resep atau pada apoteker yang memberikan obat. Dengan
cara demikian penjelasan yang lengkap tentang cara menggunakan obat yang benar
dan rasional didapatkan. Jika timbul gejala yang asing setelah minum obat
seperti gatal, buyer, lemes, mual-muntah, ataupun diare, segeralah ke
dokter/rumah sakit. Hal tersebut disebabkan timbulnya efek samping obat. Efek
samping dapat terjadi pada setiap orang, berupa reaksi alergi (gatal, biduren,
diare, sesak nafas atau shock), karena efek obat tersebut atau efek ikutan
(ngantuk, mual, lemes). Alergi tidak dapat diduga sebelumnya, sedangkan efek
ikutan obat dapat diduga sebelumnya.
Pengelolaan Obat dalam Rumah Tangga
Kita telah minum obat, mengoleskan obat,
bahkan mendapat suntikan obat. Apa sebenarnya obat itu? Obat adalah suatu
senyawa/bahan kimia yang berasal dari luar tubuh dan akan mengakibatkan
perubahan fungsi biologi jaringan atau organ jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Tujuan meminum obat adalah untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit. Untuk
mencapai tujuan pengobatan dan penatalaksanaan kejadian-kejadian di rumah
tangga, perlu disediakan obat sederhana. Walaupun obat yang tersedia sederhana,
namun perlu dikelola dengan baik. Pengelolaan yang tidak baik selain
menyebabkan biaya terbuang percuma juga dapat membahayakan jiwa. Salah satu
contoh seorang intelektual meninggal dunia karena meminum racun serangga yang
diletakkan di tempat menyimpan obat. Secara umum pengelolaan obat di rumah
tangga mencakup jenis obat dan alat kesehatan yang harus tersedia; jumlah yang
harus disediakan; dimana membelinya; cara menyimpannya; cara mengetahui obat
yang rusak; dan cara penggunaan yang benar. Pengelolaan obat di rumah tangga
dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga karena yang paling sering tinggal di
rumah, mengenal seisi rumah, dan yang pasti seorang ibu sangat peka terhadap
kesehatan seisi rumah. Penyediaan obat tidak harus selengkap di rumah sakit,
tetapi cukup untuk mengatasi keadaan darurat rumah tangga. Obat-obat yang harus
tersedia dapat dikelompokkan sebagai berikut obat-obat luar, obat-obat yang
dibeli sendiri, dan obat-obat khusus yang didapat dari resep dokter. Ketiga
golongan obat harus jelas dan disimpan dalam tempat yang terpisah.Pengelompokan
yang paling mudah adalah dengan memisahkan obat luar dengan obat yang diminum.
Obat yang diminum untuk bayi dipisahkan dari obat anak dan obat untuk dewasa.
Cara pemisahan ini minimal dapat mencegah salah penggunaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar