Palang
Merah Remaja (PMR)
Di bawah
rintk hujan
Di antara
kilat saling bersambaran
Langkah
kakimu menapak air keruh
Ketika
banjir melanda
Namun
semua tak kau hiraukan
Kau
gadaikan nyawamu tuk bantu
Orang lain
yang membutuhkanmu
Ras ikhlas
terbayang
Di raut
mukamu nan masih muda
Kau palang
merah remaja
Kehadiranmu
patut ku banggakan
Akibat
Ulah Sendiri
Aku lihat
Kau dulu
lebat
Aku
pandang
Kau dulu
menyenangkan
Aku
rasakan
Kau dulu
nyaman
Kini
Setelah
revormasi datang
Nasibmu
semakin merana
Mereka
ternyata benar-benar kejam
Tak ada
belas kasihan
Mereka
hancurkan nasibmu
Mereka
habisi nasibmu
Tak mereka
sisakan sedikit pun
Baiklah
Kekejaman
mereka kini kembali padanya
Biar
Betapa
menyengatnya panasdi siang hari
Betapa
mudahnya tanah longsor terjadi
Banjir melanda
sebagian besar negri
Itulah
akibat ulah sendiri
Huesca
Jiwa di
dunia yang hilang jiwa
Jiwa
sayang kenag padamu
Adakah
derita disisiku
Bayangan
yang membikin tinjauan beku
Angin
bangkit ketika senja
Ingatkan
musim gugur akan tiba
Aku cemas
bisa kehilangan kau
Dibantu
penghabisan ke Huesca
Pagar
penghabisan dari kebanggaan kita
Jakarta
Jakarta
Di
jalan-jalan raya
Di
lorong-lorong gelap
Kaum
jelata tergancet
Bagai
udang di pepes
Dalam
bus-bus kota
Dan
gubuk-gubuk tanpa cendela
Ombak
Betapa aku
rindu suaramu
Saa
kepekatan bayangan
Wajahmu
melerai
Kegelisahan
Di lautan
bahtera
Ku cacat
lukaku
Ladang
petani
Tersisih
jauh diluar kota
Mendatar
ladang setentang mata
Dalamnya
penuh tanam-tanaman
Senang
riang pandangan mata
Damai aman
hati dan sukma
Ditengah-tengah
tanaman muda
Petani
berdiri dengan senangnya
Memandang
ladang penuh kekayaan
Tumbuh-tumbuhan
banyak makamnya
Membayangkan
datang zaman sentosa
Aku
Aku
Kalau
sampai waktuku
Ku mau tak
seorang pun merayu
Tidak juga
kau
Aku ini
bintang jalang
Dari
kumpulan yang terbuang
Taman
Taman
punya kita berdua
tak lebar
luas, kecil saja
satu tak
kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau
dan aku cukuplah
Taman
kembangnya tak berbanding permadani
halus
lembut dipijak kaki.
Bagi kita
bukan halangan.
Karena
dalam
taman punya berdua
Kau
kembang, aku kumbang
Aku
kumbang, kau kembang.
Kecil,
penuh surya taman kita
tempat
merenggut dari dunia dan 'nusia
Do’a
Tuhanku,
Dalam
termangu,
Aku masih
menyebut namamu,
Biar susah
sungguh,
mengingat
Kau penuh seluruh,
cahaya Mu
panas suci,
tinggal
kerdip lilin di kelam sunyi,
Tuhanku,
aku hilang bentuk,
remuk,
Tuhanku,
aku
mengembara di negeri asing,
Tuhanku,
di pintu
Mu aku mengetuk,
Aku tidak
bisa berpaling.
Kasih
Pada suatu
malam
Ketika
seorang ibu duduk di kursi goyang
Sang anak
duduk di lantai merebahkan kepalanya
Di
pangkuan ibunya
Sang ibu
mendendangkan lagu jawa
Ia
membelai lembut rambut anaknya
Sang anak
pun tertidur
Bermimpilah
indah tentang ibunya
Karena
Kasih-Mu
Karena
kasihmu
Engkau tentukan waktu
Sehari lima kali kita bertemu
Engkau tentukan waktu
Sehari lima kali kita bertemu
Aku
anginkan rupamu
Kulebihi sekali
Sebelum cuaca menali sutera
Kulebihi sekali
Sebelum cuaca menali sutera
Berulang-ulang
kuintai-intai
Terus-menerus kurasa-rasakan
Sampai sekarang tiada tercapai
Hasrat sukma idaman badan
Terus-menerus kurasa-rasakan
Sampai sekarang tiada tercapai
Hasrat sukma idaman badan
Bangsaku
Setiap
saat kami berbuat
Demi kami
Bangsaku
Tumpah
darahku
Kami tidak
lupa
Perjuangan
pahlawanku
Masa lalu
Demi kamu
Oh Tuhan.
Tunjukilah kami
Pewaris
bangsa
Oh Tuhan,
lindungilah zamrud khatulistiwa
Oh Tuhan
Sumsum bangsa
Aku
Beginilah
hidupku
Tanpa ayah
tanpa ibu
Betapa
malang nasibku
Demikianlah
duniaku jadi kelabu
Bercucuran
air mataku
Jika aku
mengenang nasibku
Tapi ini
takdir Tuhan Mahatahu
Kita tak
boleh Menyesali
Dari
seorang guru
Apakah
yang kupunya, anak-anakku
selain
buku-buku dan sedikit ilmu
sumber
pengabdian kepadamu.
Kalau di
hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut
anak-anakku
kursi-kursi
tua yang di sana
dan meja
tulis sederhana
dan
jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua
padamu akan bercerita
tentang
hidupku di rumah tangga
Sepatu
Engkau antarkan
aku ke sekolah
Engkau tak
pernah mengaku lelah
Engkau
lindungi kakiku
Engkau
tangkis serbuan debu
Keindahan
sawah
menghijau terbentang
pepohonan yang rindang menambah keindahan
burung-burung terbang dan berkicauan
terbang ke awan yang tinggi
membawa kesenangan dan kegembiraan
hamparan padang rumput nan hijau
memberikan kesejukan dalam jiwaku.
pepohonan yang rindang menambah keindahan
burung-burung terbang dan berkicauan
terbang ke awan yang tinggi
membawa kesenangan dan kegembiraan
hamparan padang rumput nan hijau
memberikan kesejukan dalam jiwaku.
Selamat
Tinggal
Aku
berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
-- dalam hatiku? --
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!
Segala menebal, segela mengental
Segala tak kukenal
Selamat tinggal...!!
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
-- dalam hatiku? --
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!
Segala menebal, segela mengental
Segala tak kukenal
Selamat tinggal...!!
Orang-orang
Miskin
Orang-orang miskin di jalan,
yang
tinggal di dalam selokan,
yang kalah
di dalam pergulatan,
yang
diledek oleh impian,
janganlah
mereka ditinggalkan.
Tuhanku
Apatah Kekal?
Tuhanku ,
Suka dan ria
Gelak dan senyum
Tepuk dan tari
Semuanya lenyap, silam sekali.
Gelak bertukarkan duka
Suka bersalinkan ratap
Kasih beralih cinta
Cinta membawa wasangka ….
Junjunganku apatah kekal
Apatah tetap
Apakah tak bersalin rupa
Apatah baka sepanjang masa ….
Bunga layu disinari matahari
Makhluk berangkat menepati janji
Hijau langit bertukar mendung
Gelombang reda di tepi pantai.
Selangkan gagak beralih warna
Semerbak cempaka sekali hilang
Apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara ….
Tuhanku apatah kekal?
Gelak dan senyum
Tepuk dan tari
Semuanya lenyap, silam sekali.
Gelak bertukarkan duka
Suka bersalinkan ratap
Kasih beralih cinta
Cinta membawa wasangka ….
Junjunganku apatah kekal
Apatah tetap
Apakah tak bersalin rupa
Apatah baka sepanjang masa ….
Bunga layu disinari matahari
Makhluk berangkat menepati janji
Hijau langit bertukar mendung
Gelombang reda di tepi pantai.
Selangkan gagak beralih warna
Semerbak cempaka sekali hilang
Apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara ….
Tuhanku apatah kekal?
Karangan
bunga
Tiga anak
kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
Ini dari
kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
IBUMU LAUT
Ibumu laut
yang melepas kapal-kapal tanpa bertanya
Ibumu laut
yang melepas kapal-kapal tanpa bertanya
mengapa
dan menitipkan doanya pada gemuruh
dan menitipkan doanya pada gemuruh
ombak
supaya angin menjadi penunjuk
agar karang-karang tak tertabrak
ibumu laut
seberapa jauh kau berlayar
akan kembali pada pantainya juga
supaya angin menjadi penunjuk
agar karang-karang tak tertabrak
ibumu laut
seberapa jauh kau berlayar
akan kembali pada pantainya juga
Bukan beta
bijak berperi
Bukan beta
bijak berperi
Pandai
mengubah madahan syair
Bukan bela
budak negeri
Musti
menurut undangan mair
Syarat
sarat saya mungkiri
Untai
rangkaian seloka lama
Beta buang
beta singkiri
Sebab
laguku menurut sukma
Susah
sungguh saya sampaikan
Degub-deguban
di dalam kalbu
Lemah laun
lagu dengungan
PAHLAWAN
TAK DIKENAL
Sepuluh
tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Menyesal
Pagiku
hilang sudah melayang
Hari
mudaku sudah pergi
Sekarang
petang datang membayang
Batang
usiaku sudah tinggi
Aku
lalai dihari pagi
Beta
lengah dimasa muda
Kini
hidup meracun hati
Miskin
ilmu , miskin harta
Ah , apa
guna aku sesalkan
Menyesal
tua tiada berguna
Hanya
menambah luka sukma
Kepada
yang muda kuharapkan
Atur
barisan dipagi hari
Menuju
kearah padang bakti
Pusat
Serasa apa
hidup yang rebaring mati
Memandang musim yang mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara.
Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan padang senja
Hidupku dalam tiupan usia.
Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bias menari
Kata-kata yang pejuang tak mau mati.
Memandang musim yang mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara.
Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan padang senja
Hidupku dalam tiupan usia.
Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bias menari
Kata-kata yang pejuang tak mau mati.
Tuhan
Tuhan,
tempat aku berteduh,
dimana aku
mengeluh
dengan
segala keluh.
Tuhan, Tuhan yang maha esa
Tuhan, Tuhan yang maha esa
tempat aku
memuja
dengan
segala doa.
Aku jauh, Engkau jauh.
Aku jauh, Engkau jauh.
Aku dekat,
Engkau dekat.
Hati adalah cermin
Hati adalah cermin
tempat
pahala dan dosa barpadu.
Hanya Satu
Timbul
niat dalam kalbumu
Terban
hujan, ungkai badai
Terendam
karam
Runtuh
ripuk tamanmu rampak
Manusia
kecil lintang pukang
Lari
terbang jatuh duduk
Air naik
tetap terus
Tumbang
bungkar pokok purba
Teriak
riuh redam terbelam
Dalam
gegap gempita guruh
Kilau
kilat membelah gelap
Lidah api
menjulang tinggi
Terapung
naik jung bertudung
Tempat
berteduh nuh kekasihmu
Bebas
lepas lelang lapang
Di tengah
gelisah, swara sentosa
Dibawah
Gelombang
Alun membawa
bidukku perlahan
Dalam
kesunyian malam waktu
Tidak
berpawang tidak berteman
Entah ke
mana aku tak tahu
Jauh di
atas bintang kemilau
Seperti
sudah berabad abad
Dengan
damai mereka meninjau
Kehidupan
bumi yang kecil amat
Aku
menyanyi dengan suara
Seperti
bisikan di daun
Suaraku
hilang dalam udara
Dalam laut
yang beralun alunan
Tuhan
Tuhan
pelankan lah malam tiba
agar kami berdua tidak kehilangan arah
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan, sisihkanlah mendung itu
jika gerimis sakit ibuku kambuh
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan berikanlah kekuatan
untuk menempuh hidup ini
kami tahu derita hari ini
adalah bahagia esok hari
agar kami berdua tidak kehilangan arah
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan, sisihkanlah mendung itu
jika gerimis sakit ibuku kambuh
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan berikanlah kekuatan
untuk menempuh hidup ini
kami tahu derita hari ini
adalah bahagia esok hari
Jadilah
Kau Bunga
Jadilah
kau Bunga
yang
selalu ingin mengembang
selalu
mekar sepanjang musim
tak
perduli musim basah atau kemarau
Jadilah
kau Bunga
yang
tumbuh pada setiap hati
yang tegar
walau dalam belukar
tumbuhlah,
berkembanglah,
di mana
pun engkau ditaburkan
Cinta aku
Untuk-Mu
Ketika kugoreskan kenangan ini
Selembar bianglala gerimis
Membentang antara 'kau dan aku
Ketika kunyanyikan puisi ini
Seberkas melodi petir merah
Menjitak hatiku yang biru
Dan kisah 'kau abadikan
Cinta kita 'kau lestarikan
Dalam kata dengan tinta
Atas kertas penuh nuansa
Ketika kugoreskan kenangan ini
Selembar bianglala gerimis
Membentang antara 'kau dan aku
Ketika kunyanyikan puisi ini
Seberkas melodi petir merah
Menjitak hatiku yang biru
Dan kisah 'kau abadikan
Cinta kita 'kau lestarikan
Dalam kata dengan tinta
Atas kertas penuh nuansa
Sahabat,
Cinta-Ku
Cinta-Ku
Untuk-Mu....
Berdo’a
ibuku yang
telah memelihara dan membesarkan daku
dan telah menyekolahkan daku
dia satu satu nya untuku
yang merawat daku sewaktu kecil
aku akan mendoakan ibuku
karna dia yang mengayun ngayun daku
ketika daku masih kecil
dan dia yang membesarkan aku
dan telah menyekolahkan daku
dia satu satu nya untuku
yang merawat daku sewaktu kecil
aku akan mendoakan ibuku
karna dia yang mengayun ngayun daku
ketika daku masih kecil
dan dia yang membesarkan aku
Rindu
Dendam
Aku
Mengembara seorang diri
Antara
bekas majapahit
Aku
bermimpi, terkenang dulu
Dan
teringat waktu sekarang
O Dewata,
pabila gerang
Akan
kembali kemegahan
Dan
keindahan tanah airku
Anganku
Dikala
perjalanan jauh
Sejenak
aku berhenti
Banya
persimpangan dihadapanku
Entah arah
mana yang harus ku tempuh
Ku tengok
ke sekelilingku
Sepi,
Hanya
bulan yang syahdu merayu
Ku
tertunduk malu
Tidak
mampu menatap waktu
Hitam
Kau tahu
apa ini?
Benda
hitam dan berlubang-lubang
Yang ada
di tanganku ini?
Inilah
derita yang kualami setahun belakangan
Inilah
harapan-harapan yang telah menghitamkan itu
Inilah
hatiku yang dengan susah payah
Ku
keluarkan dari badan
Agar aku
tak lagi tersengat rindu
Agar aku
lupa cintaku
Inilah
hatiku....
Cinta Yang
Terpendam
Kubiarkan
hatiku membisu menekan perasaan cinta
Kubiarkan
kisah ini terpendam karena kau raga
Aku tak
sungguh-sungguh saat aku telusuri akan arti semua ini
Ku makin
yakin arti cinta suci
Kasih
.....
Ku tahu
kau tak mencintaiku
Namun
mengapa kau memberi harapan padaku
Jalanku
masih panjang tuk mencapai masa depan
Kasih ....
Ku selalu
menyayangimu walaupun tak dapat bersamamu
Kasih....
Kesetiaan
iu suci
Aku tak
peduli kau milik siapa!
Sebab
mencintai itu bukan “dosa”.
Ketika
Ajal Menjelang
Ketika
ajal datang menjelang
Malaikat Izroil
pun mainkan peran
Nyawa
tercabut tubuh pun meranggang
Allah
Akbar janjiMu telah “datang”
Lidah pun
kelu. Bibir pun membiru
Seluruh
tubuh kaku dan membeku
Kenikmatan
dunia pun berlalu
Mohon
ampunan sudah tak berlaku
Tiada lagi
tempat
Pertolongan,
kecuali amal dan perbuatan
Semasa
hidup membentang “zaman”
Ridho
Ilahi yang didambakan.
Perjalanan
Hidup Ku
Perjalanan
ku terasa melelahkan
Ku duduk
bertahan sendiri di sini
Hidup
adalah sebuah perjalanan
Selalu
banyak rintangan yang kuhadapi
Perjalanan
ini bagaikan roda berputar
Suka dan
duka terus ku jalani
Kuberjalan
untuk hidup ku selalu bersabar
Ingin ku
mengerti arti hidup ini
Ku terus
tersenyum melawan kegagalan
Hidup di
bumi sebuah perjuangan
Ku akan
pelajari dari kegagalan
Hingga
lupa kata putus asa
Impian
Aku
melangkah dan terus melangkah ...
Menyusuri
jalan yang penuh liku
Tanpa
tujuan..........
Tanpa arah
......
Dan tanpa
pendamping
Mencoba
menemukan IMPIAN
Yang
selama ini ku impikan
Impian
yang jauh dari bayang-bayang
NYATA
“Terwujudkah?”
Lalu ku
putuskan rasa putus asa itu.....
Dan
bertekat untuk mendapatkan impian
Dan kini
.....
Telah ku
dapatkan impian itu .....
DI DEPAN
MATA
Cinta yang Tenggelam
Entah sejak kapan
Rasa ini hadir dalam diriku
Kau memberi warna dalam jiwaku
Namamu teelah tertanam dalam lubuk
hatiku
Perasaan cemas atas dasar cemburu
Perasaan benci atas dasar kesepian
Perasaan senang atas dasar
kemenengan
Hanya ini bentuk ungkapan rasa
Yang dapat kau lihat dalam diriku
Tak berani aku ungkap kata cinta
padamu
Karena kekecewaan masa silam
Telah menoreh luka dalam hatiku
Kini ku hanya dapat membiarkan
Memberikan akar cintamu tumbuh
Subur dalam jiwaku ......
Palang
Merah Remaja (PMR)
Di bawah
rintk hujan
Di antara
kilat saling bersambaran
Langkah
kakimu menapak air keruh
Ketika
banjir melanda
Namun
semua tak kau hiraukan
Kau
gadaikan nyawamu tuk bantu
Orang lain
yang membutuhkanmu
Ras ikhlas
terbayang
Di raut
mukamu nan masih muda
Kau palang
merah remaja
Kehadiranmu
patut ku banggakan
Akibat
Ulah Sendiri
Aku lihat
Kau dulu
lebat
Aku
pandang
Kau dulu
menyenangkan
Aku
rasakan
Kau dulu
nyaman
Kini
Setelah
revormasi datang
Nasibmu
semakin merana
Mereka
ternyata benar-benar kejam
Tak ada
belas kasihan
Mereka
hancurkan nasibmu
Mereka
habisi nasibmu
Tak mereka
sisakan sedikit pun
Baiklah
Kekejaman
mereka kini kembali padanya
Biar
Betapa
menyengatnya panasdi siang hari
Betapa
mudahnya tanah longsor terjadi
Banjir melanda
sebagian besar negri
Itulah
akibat ulah sendiri
Huesca
Jiwa di
dunia yang hilang jiwa
Jiwa
sayang kenag padamu
Adakah
derita disisiku
Bayangan
yang membikin tinjauan beku
Angin
bangkit ketika senja
Ingatkan
musim gugur akan tiba
Aku cemas
bisa kehilangan kau
Dibantu
penghabisan ke Huesca
Pagar
penghabisan dari kebanggaan kita
Jakarta
Jakarta
Di
jalan-jalan raya
Di
lorong-lorong gelap
Kaum
jelata tergancet
Bagai
udang di pepes
Dalam
bus-bus kota
Dan
gubuk-gubuk tanpa cendela
Ombak
Betapa aku
rindu suaramu
Saa
kepekatan bayangan
Wajahmu
melerai
Kegelisahan
Di lautan
bahtera
Ku cacat
lukaku
Ladang
petani
Tersisih
jauh diluar kota
Mendatar
ladang setentang mata
Dalamnya
penuh tanam-tanaman
Senang
riang pandangan mata
Damai aman
hati dan sukma
Ditengah-tengah
tanaman muda
Petani
berdiri dengan senangnya
Memandang
ladang penuh kekayaan
Tumbuh-tumbuhan
banyak makamnya
Membayangkan
datang zaman sentosa
Aku
Aku
Kalau
sampai waktuku
Ku mau tak
seorang pun merayu
Tidak juga
kau
Aku ini
bintang jalang
Dari
kumpulan yang terbuang
Taman
Taman
punya kita berdua
tak lebar
luas, kecil saja
satu tak
kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau
dan aku cukuplah
Taman
kembangnya tak berbanding permadani
halus
lembut dipijak kaki.
Bagi kita
bukan halangan.
Karena
dalam
taman punya berdua
Kau
kembang, aku kumbang
Aku
kumbang, kau kembang.
Kecil,
penuh surya taman kita
tempat
merenggut dari dunia dan 'nusia
Do’a
Tuhanku,
Dalam
termangu,
Aku masih
menyebut namamu,
Biar susah
sungguh,
mengingat
Kau penuh seluruh,
cahaya Mu
panas suci,
tinggal
kerdip lilin di kelam sunyi,
Tuhanku,
aku hilang bentuk,
remuk,
Tuhanku,
aku
mengembara di negeri asing,
Tuhanku,
di pintu
Mu aku mengetuk,
Aku tidak
bisa berpaling.
Kasih
Pada suatu
malam
Ketika
seorang ibu duduk di kursi goyang
Sang anak
duduk di lantai merebahkan kepalanya
Di
pangkuan ibunya
Sang ibu
mendendangkan lagu jawa
Ia
membelai lembut rambut anaknya
Sang anak
pun tertidur
Bermimpilah
indah tentang ibunya
Karena
Kasih-Mu
Karena
kasihmu
Engkau tentukan waktu
Sehari lima kali kita bertemu
Engkau tentukan waktu
Sehari lima kali kita bertemu
Aku
anginkan rupamu
Kulebihi sekali
Sebelum cuaca menali sutera
Kulebihi sekali
Sebelum cuaca menali sutera
Berulang-ulang
kuintai-intai
Terus-menerus kurasa-rasakan
Sampai sekarang tiada tercapai
Hasrat sukma idaman badan
Terus-menerus kurasa-rasakan
Sampai sekarang tiada tercapai
Hasrat sukma idaman badan
Bangsaku
Setiap
saat kami berbuat
Demi kami
Bangsaku
Tumpah
darahku
Kami tidak
lupa
Perjuangan
pahlawanku
Masa lalu
Demi kamu
Oh Tuhan.
Tunjukilah kami
Pewaris
bangsa
Oh Tuhan,
lindungilah zamrud khatulistiwa
Oh Tuhan
Sumsum bangsa
Aku
Beginilah
hidupku
Tanpa ayah
tanpa ibu
Betapa
malang nasibku
Demikianlah
duniaku jadi kelabu
Bercucuran
air mataku
Jika aku
mengenang nasibku
Tapi ini
takdir Tuhan Mahatahu
Kita tak
boleh Menyesali
Dari
seorang guru
Apakah
yang kupunya, anak-anakku
selain
buku-buku dan sedikit ilmu
sumber
pengabdian kepadamu.
Kalau di
hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut
anak-anakku
kursi-kursi
tua yang di sana
dan meja
tulis sederhana
dan
jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua
padamu akan bercerita
tentang
hidupku di rumah tangga
Sepatu
Engkau antarkan
aku ke sekolah
Engkau tak
pernah mengaku lelah
Engkau
lindungi kakiku
Engkau
tangkis serbuan debu
Keindahan
sawah
menghijau terbentang
pepohonan yang rindang menambah keindahan
burung-burung terbang dan berkicauan
terbang ke awan yang tinggi
membawa kesenangan dan kegembiraan
hamparan padang rumput nan hijau
memberikan kesejukan dalam jiwaku.
pepohonan yang rindang menambah keindahan
burung-burung terbang dan berkicauan
terbang ke awan yang tinggi
membawa kesenangan dan kegembiraan
hamparan padang rumput nan hijau
memberikan kesejukan dalam jiwaku.
Selamat
Tinggal
Aku
berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
-- dalam hatiku? --
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!
Segala menebal, segela mengental
Segala tak kukenal
Selamat tinggal...!!
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
-- dalam hatiku? --
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!
Segala menebal, segela mengental
Segala tak kukenal
Selamat tinggal...!!
Orang-orang
Miskin
Orang-orang miskin di jalan,
yang
tinggal di dalam selokan,
yang kalah
di dalam pergulatan,
yang
diledek oleh impian,
janganlah
mereka ditinggalkan.
Tuhanku
Apatah Kekal?
Tuhanku ,
Suka dan ria
Gelak dan senyum
Tepuk dan tari
Semuanya lenyap, silam sekali.
Gelak bertukarkan duka
Suka bersalinkan ratap
Kasih beralih cinta
Cinta membawa wasangka ….
Junjunganku apatah kekal
Apatah tetap
Apakah tak bersalin rupa
Apatah baka sepanjang masa ….
Bunga layu disinari matahari
Makhluk berangkat menepati janji
Hijau langit bertukar mendung
Gelombang reda di tepi pantai.
Selangkan gagak beralih warna
Semerbak cempaka sekali hilang
Apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara ….
Tuhanku apatah kekal?
Gelak dan senyum
Tepuk dan tari
Semuanya lenyap, silam sekali.
Gelak bertukarkan duka
Suka bersalinkan ratap
Kasih beralih cinta
Cinta membawa wasangka ….
Junjunganku apatah kekal
Apatah tetap
Apakah tak bersalin rupa
Apatah baka sepanjang masa ….
Bunga layu disinari matahari
Makhluk berangkat menepati janji
Hijau langit bertukar mendung
Gelombang reda di tepi pantai.
Selangkan gagak beralih warna
Semerbak cempaka sekali hilang
Apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara ….
Tuhanku apatah kekal?
Karangan
bunga
Tiga anak
kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu.
Ini dari
kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati
siang tadi’
IBUMU LAUT
Ibumu laut
yang melepas kapal-kapal tanpa bertanya
Ibumu laut
yang melepas kapal-kapal tanpa bertanya
mengapa
dan menitipkan doanya pada gemuruh
dan menitipkan doanya pada gemuruh
ombak
supaya angin menjadi penunjuk
agar karang-karang tak tertabrak
ibumu laut
seberapa jauh kau berlayar
akan kembali pada pantainya juga
supaya angin menjadi penunjuk
agar karang-karang tak tertabrak
ibumu laut
seberapa jauh kau berlayar
akan kembali pada pantainya juga
Bukan beta
bijak berperi
Bukan beta
bijak berperi
Pandai
mengubah madahan syair
Bukan bela
budak negeri
Musti
menurut undangan mair
Syarat
sarat saya mungkiri
Untai
rangkaian seloka lama
Beta buang
beta singkiri
Sebab
laguku menurut sukma
Susah
sungguh saya sampaikan
Degub-deguban
di dalam kalbu
Lemah laun
lagu dengungan
PAHLAWAN
TAK DIKENAL
Sepuluh
tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Menyesal
Pagiku
hilang sudah melayang
Hari
mudaku sudah pergi
Sekarang
petang datang membayang
Batang
usiaku sudah tinggi
Aku
lalai dihari pagi
Beta
lengah dimasa muda
Kini
hidup meracun hati
Miskin
ilmu , miskin harta
Ah , apa
guna aku sesalkan
Menyesal
tua tiada berguna
Hanya
menambah luka sukma
Kepada
yang muda kuharapkan
Atur
barisan dipagi hari
Menuju
kearah padang bakti
Pusat
Serasa apa
hidup yang rebaring mati
Memandang musim yang mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara.
Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan padang senja
Hidupku dalam tiupan usia.
Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bias menari
Kata-kata yang pejuang tak mau mati.
Memandang musim yang mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara.
Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan padang senja
Hidupku dalam tiupan usia.
Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bias menari
Kata-kata yang pejuang tak mau mati.
Tuhan
Tuhan,
tempat aku berteduh,
dimana aku
mengeluh
dengan
segala keluh.
Tuhan, Tuhan yang maha esa
Tuhan, Tuhan yang maha esa
tempat aku
memuja
dengan
segala doa.
Aku jauh, Engkau jauh.
Aku jauh, Engkau jauh.
Aku dekat,
Engkau dekat.
Hati adalah cermin
Hati adalah cermin
tempat
pahala dan dosa barpadu.
Hanya Satu
Timbul
niat dalam kalbumu
Terban
hujan, ungkai badai
Terendam
karam
Runtuh
ripuk tamanmu rampak
Manusia
kecil lintang pukang
Lari
terbang jatuh duduk
Air naik
tetap terus
Tumbang
bungkar pokok purba
Teriak
riuh redam terbelam
Dalam
gegap gempita guruh
Kilau
kilat membelah gelap
Lidah api
menjulang tinggi
Terapung
naik jung bertudung
Tempat
berteduh nuh kekasihmu
Bebas
lepas lelang lapang
Di tengah
gelisah, swara sentosa
Dibawah
Gelombang
Alun membawa
bidukku perlahan
Dalam
kesunyian malam waktu
Tidak
berpawang tidak berteman
Entah ke
mana aku tak tahu
Jauh di
atas bintang kemilau
Seperti
sudah berabad abad
Dengan
damai mereka meninjau
Kehidupan
bumi yang kecil amat
Aku
menyanyi dengan suara
Seperti
bisikan di daun
Suaraku
hilang dalam udara
Dalam laut
yang beralun alunan
Tuhan
Tuhan
pelankan lah malam tiba
agar kami berdua tidak kehilangan arah
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan, sisihkanlah mendung itu
jika gerimis sakit ibuku kambuh
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan berikanlah kekuatan
untuk menempuh hidup ini
kami tahu derita hari ini
adalah bahagia esok hari
agar kami berdua tidak kehilangan arah
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan, sisihkanlah mendung itu
jika gerimis sakit ibuku kambuh
jalan yang kami tempuh masih jauh
Tuhan berikanlah kekuatan
untuk menempuh hidup ini
kami tahu derita hari ini
adalah bahagia esok hari
Jadilah
Kau Bunga
Jadilah
kau Bunga
yang
selalu ingin mengembang
selalu
mekar sepanjang musim
tak
perduli musim basah atau kemarau
Jadilah
kau Bunga
yang
tumbuh pada setiap hati
yang tegar
walau dalam belukar
tumbuhlah,
berkembanglah,
di mana
pun engkau ditaburkan
Cinta aku
Untuk-Mu
Ketika kugoreskan kenangan ini
Selembar bianglala gerimis
Membentang antara 'kau dan aku
Ketika kunyanyikan puisi ini
Seberkas melodi petir merah
Menjitak hatiku yang biru
Dan kisah 'kau abadikan
Cinta kita 'kau lestarikan
Dalam kata dengan tinta
Atas kertas penuh nuansa
Ketika kugoreskan kenangan ini
Selembar bianglala gerimis
Membentang antara 'kau dan aku
Ketika kunyanyikan puisi ini
Seberkas melodi petir merah
Menjitak hatiku yang biru
Dan kisah 'kau abadikan
Cinta kita 'kau lestarikan
Dalam kata dengan tinta
Atas kertas penuh nuansa
Sahabat,
Cinta-Ku
Cinta-Ku
Untuk-Mu....
Berdo’a
ibuku yang
telah memelihara dan membesarkan daku
dan telah menyekolahkan daku
dia satu satu nya untuku
yang merawat daku sewaktu kecil
aku akan mendoakan ibuku
karna dia yang mengayun ngayun daku
ketika daku masih kecil
dan dia yang membesarkan aku
dan telah menyekolahkan daku
dia satu satu nya untuku
yang merawat daku sewaktu kecil
aku akan mendoakan ibuku
karna dia yang mengayun ngayun daku
ketika daku masih kecil
dan dia yang membesarkan aku
Rindu
Dendam
Aku
Mengembara seorang diri
Antara
bekas majapahit
Aku
bermimpi, terkenang dulu
Dan
teringat waktu sekarang
O Dewata,
pabila gerang
Akan
kembali kemegahan
Dan
keindahan tanah airku
Anganku
Dikala
perjalanan jauh
Sejenak
aku berhenti
Banya
persimpangan dihadapanku
Entah arah
mana yang harus ku tempuh
Ku tengok
ke sekelilingku
Sepi,
Hanya
bulan yang syahdu merayu
Ku
tertunduk malu
Tidak
mampu menatap waktu
Hitam
Kau tahu
apa ini?
Benda
hitam dan berlubang-lubang
Yang ada
di tanganku ini?
Inilah
derita yang kualami setahun belakangan
Inilah
harapan-harapan yang telah menghitamkan itu
Inilah
hatiku yang dengan susah payah
Ku
keluarkan dari badan
Agar aku
tak lagi tersengat rindu
Agar aku
lupa cintaku
Inilah
hatiku....
Cinta Yang
Terpendam
Kubiarkan
hatiku membisu menekan perasaan cinta
Kubiarkan
kisah ini terpendam karena kau raga
Aku tak
sungguh-sungguh saat aku telusuri akan arti semua ini
Ku makin
yakin arti cinta suci
Kasih
.....
Ku tahu
kau tak mencintaiku
Namun
mengapa kau memberi harapan padaku
Jalanku
masih panjang tuk mencapai masa depan
Kasih ....
Ku selalu
menyayangimu walaupun tak dapat bersamamu
Kasih....
Kesetiaan
iu suci
Aku tak
peduli kau milik siapa!
Sebab
mencintai itu bukan “dosa”.
Ketika
Ajal Menjelang
Ketika
ajal datang menjelang
Malaikat Izroil
pun mainkan peran
Nyawa
tercabut tubuh pun meranggang
Allah
Akbar janjiMu telah “datang”
Lidah pun
kelu. Bibir pun membiru
Seluruh
tubuh kaku dan membeku
Kenikmatan
dunia pun berlalu
Mohon
ampunan sudah tak berlaku
Tiada lagi
tempat
Pertolongan,
kecuali amal dan perbuatan
Semasa
hidup membentang “zaman”
Ridho
Ilahi yang didambakan.
Perjalanan
Hidup Ku
Perjalanan
ku terasa melelahkan
Ku duduk
bertahan sendiri di sini
Hidup
adalah sebuah perjalanan
Selalu
banyak rintangan yang kuhadapi
Perjalanan
ini bagaikan roda berputar
Suka dan
duka terus ku jalani
Kuberjalan
untuk hidup ku selalu bersabar
Ingin ku
mengerti arti hidup ini
Ku terus
tersenyum melawan kegagalan
Hidup di
bumi sebuah perjuangan
Ku akan
pelajari dari kegagalan
Hingga
lupa kata putus asa
Impian
Aku
melangkah dan terus melangkah ...
Menyusuri
jalan yang penuh liku
Tanpa
tujuan..........
Tanpa arah
......
Dan tanpa
pendamping
Mencoba
menemukan IMPIAN
Yang
selama ini ku impikan
Impian
yang jauh dari bayang-bayang
NYATA
“Terwujudkah?”
Lalu ku
putuskan rasa putus asa itu.....
Dan
bertekat untuk mendapatkan impian
Dan kini
.....
Telah ku
dapatkan impian itu .....
DI DEPAN
MATA
Cinta yang Tenggelam
Entah sejak kapan
Rasa ini hadir dalam diriku
Kau memberi warna dalam jiwaku
Namamu teelah tertanam dalam lubuk
hatiku
Perasaan cemas atas dasar cemburu
Perasaan benci atas dasar kesepian
Perasaan senang atas dasar
kemenengan
Hanya ini bentuk ungkapan rasa
Yang dapat kau lihat dalam diriku
Tak berani aku ungkap kata cinta
padamu
Karena kekecewaan masa silam
Telah menoreh luka dalam hatiku
Kini ku hanya dapat membiarkan
Memberikan akar cintamu tumbuh
Subur dalam jiwaku ......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar